Medan — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sumatera Utara berlangsung dalam suasana relatif tertib, aman, dan kondusif. Sejumlah aktivis di Sumatera Utara menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran strategis Ketua Harian DPD Golkar Sumut, Yasyir Ridho, yang dinilai mampu menjadi pengendali dinamika sekaligus penenun persatuan di tengah kontestasi internal, (15/2/2026).
Musda yang biasanya sarat dengan tensi politik dan tarik-menarik kepentingan, kali ini berjalan tanpa gejolak berarti. Para aktivis menilai Yasyir Ridho tampil bukan sekadar menjalankan fungsi struktural organisasi, tetapi memainkan peran substantif sebagai figur penyejuk dan penjaga keseimbangan.
Fadhilsyah Nst, “Dalam politik, perbedaan adalah keniscayaan. Namun menjaga agar perbedaan itu tidak berubah menjadi perpecahan membutuhkan kepemimpinan yang matang. Di titik inilah Yasyir Ridho menunjukkan kapasitasnya,” ujar salah seorang aktivis Sumut yang merupakan Bendahara umum DPD IMM Sumut.
Sejumlah pihak bahkan menyebut Yasyir Ridho sebagai “tukang jahit” yang merapikan sobekan komunikasi dan merangkai kembali simpul-simpul solidaritas kader. Istilah tersebut merujuk pada kemampuannya membangun dialog lintas faksi serta meredam potensi konflik sebelum membesar. Di tengah isu-isu miring dan narasi yang mencoba mendistorsi peran internalnya, para aktivis justru melihatnya sebagai sosok yang bekerja dalam senyap demi stabilitas organisasi.
menjaga Musda tetap berada dalam koridor aturan partai adalah bentuk komitmen terhadap demokrasi internal. Yasyir Ridho dinilai konsisten mendorong proses berjalan sesuai mekanisme organisasi, mengedepankan etika politik, serta menghindari pendekatan provokatif.
“Kalau ada yang mencoba membangun stigma negatif, publik bisa menilai dari hasilnya. Musda berjalan aman, tertib, dan bermartabat. Itu fakta yang tidak bisa dibantah,” tambah Fadhilsyah Nst Bendum DPD IMM Sumut.
Para aktivis berharap momentum Musda XI ini menjadi titik konsolidasi baru bagi DPD Partai Golkar Sumatera Utara dalam menghadapi agenda-agenda politik strategis di Sumatera Utara. Mereka menilai, keberhasilan menjaga stabilitas internal merupakan modal utama untuk memperkuat citra partai sebagai organisasi modern, solid, dan adaptif terhadap dinamika politik daerah.
Di tengah berbagai tafsir dan opini yang berkembang, satu hal yang disepakati para aktivis adalah bahwa kepemimpinan yang mampu meredam konflik dan merawat persatuan jauh lebih bernilai daripada retorika yang memecah belah. Dalam konteks itu, Yasyir Ridho dinilai berhasil memainkan perannya sebagai arsitek ketertiban sekaligus penjaga marwah organisasi.










