Berita  

Yasir Ridho Lubis: Maestro dan Sahabat Sejati

Sebuah Refleksi dari Generasi yang Membaca Jejak

Oleh: Ikwal Pasaribu

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan: saya tidak sama dengan mereka.

Saya bukan bagian dari generasi yang duduk semeja dengan Yasir Ridho Lubis di masa-masa awal perjuangannya. Saya tidak mengalami langsung bagaimana beliau merintis karier dari bawah, berdebat sengit di forum-forum organisasi kepemudaan, atau membangun jaringan ketika internet dan media sosial belum menjadi alat komunikasi politik.

Saya adalah generasi yang datang kemudian. Generasi yang hanya bisa membaca, menyimak, dan belajar dari cerita-cerita yang dituturkan para senior. Generasi yang mengenal Yasir Ridho Lubis bukan dari pengalaman langsung, tapi dari warisan narasi yang dirawat dengan hati-hati oleh mereka yang lebih dulu berjalan.

Dan justru dari posisi inilah—posisi sebagai pembaca sejarah, bukan pelaku sejarah—saya ingin menuliskan opini ini.

Meraba Wajah dari Cerita yang Diwariskan

Ada yang menarik ketika kita hanya bisa mengenal seseorang dari cerita orang lain. Kita seperti sedang meraba wajah dalam gelap menyentuh sisi demi sisi, mencoba membayangkan bentuk utuhnya dari potongan-potongan kecil yang diberikan.

Dari para senior, saya mendengar bahwa Yasir Ridho Lubis adalah produk sejati organisasi kepemudaan. Seorang anak muda Panyabungan yang memilih jalan panjang: masuk KNPI, merangkak dari bawah, belajar membaca peta kekuatan, dan perlahan-lahan menempatkan diri di tengah pusaran tanpa kehilangan arah.

Tapi yang paling sering ditekankan para senior dengan nada yang kadang haru, kadang bangga adalah tentang karakter kesetiaannya. Mereka bilang, “Nak, kalau kau punya teman seperti Yasir, pegang erat-erat. Karena dia tipe orang yang tidak akan meninggalkan kawan di tengah jalan.”

Saya yang tidak mengalami langsung, hanya bisa membayangkan. Tapi dari cara mereka bercerita, dari kilau mata mereka saat menyebut nama Yasir Ridho, saya bisa menangkap satu hal: sosok ini benar-benar meninggalkan jejak di hati orang-orang.

Yang Saya Baca dari Sejarah yang Ditorehkan

Para senior menuturkan bahwa Yasir Ridho memiliki falsafah yang langka: menjadikan teman menjadi apa saja. Pada awalnya, saya membaca ini secara harfiah mungkin maksudnya beliau pandai memobilisasi orang untuk berbagai peran.

Tapi makin saya dalami cerita-cerita itu, makin saya mengerti bahwa ini bukan soal memanfaatkan. Ini soal memberdayakan.

Saya membaca tentang bagaimana beliau mendampingi teman-temannya berproses. Ada yang memulai usaha dari nol, dari sekadar membuka lapak kecil di pinggir jalan menjadi pedagang kaki lima. Lalu perlahan, dengan bimbingan dan dukungan yang tidak pernah putus, usaha itu tumbuh. Yang tadinya satu lapak, menjadi beberapa gerai. Yang tadinya hanya menjual untuk bertahan hidup, kini membuka lapangan kerja untuk orang lain.

Dari kaki lima menjadi kaki seribu.

Saya tidak hadir di momen-momen itu. Tapi dari cara para senior menceritakannya, saya bisa merasakan bahwa ini bukan dongeng. Ini adalah sejarah yang nyata, yang pelakunya masih hidup dan bisa dimintai konfirmasi. Ini adalah warisan yang sengaja diturunkan agar generasi seperti saya tidak salah memilih tokoh panutan.

Maestro di Mata Generasi yang Membaca

Saya tidak berani mengklaim mengenal Yasir Ridho Lubis secara pribadi. Saya hanya membaca dari jarak, menyusun puzzle dari kepingan yang diberikan para senior.

Tapi dari bacaan itu, saya menangkap satu benang merah: Yasir Ridho Lubis adalah maestro yang karyanya bukan berupa benda mati, tapi berupa manusia-manusia yang hidup dan tumbuh.

Maestro biasanya dikenal lewat karya yang bisa dilihat, diraba, dan dipamerkan. Tapi maestro yang satu ini berbeda. Karyanya ada pada orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya. Pada pedagang yang usahanya naik kelas. Pada aktivis muda yang diberi ruang untuk berkembang. Pada sahabat-sahabat yang tidak pernah merasa sendirian menghadapi hidup.

Dan yang paling penting, para senior yang menceritakan itu tidak pernah meminta imbalan. Mereka bercerita karena memang ada rasa bangga dan syukur karena pernah berjalan bersama sosok seperti Yasir Ridho Lubis.

Pelajaran untuk Generasi Kami

Dari apa yang saya baca, ada tiga hal yang ingin saya petik dan saya bagikan kepada generasi seangkatan saya:

Pertama, proses itu penting. Yasir Ridho tidak menjadi apa yang sekarang ini dalam semalam. Ada puluhan tahun perjalanan yang ia lalui, ada ribuan pertemuan dan perbincangan yang ia jalani, ada ratusan masalah yang ia selesaikan sebelum akhirnya orang menyebutnya maestro.

Kedua, kesetiaan adalah modal jangka panjang. Di zaman di orang mudah berpindah posisi, mudah berganti haluan, mudah meninggalkan kawan lama demi kepentingan baru, Yasir Ridho memilih jalan berbeda. Dan jalan itu ternyata membawanya pada tempat yang terhormat di hati banyak orang.

Ketiga, jadilah orang yang bermanfaat. Saya membaca bahwa beliau tidak pernah pelit berbagi jaringan, peluang, dan kesempatan. Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin maju bersamanya. Dan pada akhirnya, itulah yang membuatnya dikenang: bukan jabatannya, tapi manfaatnya untuk orang lain.

Penutup dari Seorang Pembaca Sejarah

Mungkin saya tidak berhak memanggilnya “sahabat” karena saya tidak mengalami langsung masa-masa perjuangan itu. Mungkin saya hanya bisa memanggilnya “senior” atau “tokoh” dari jarak yang jauh.

Tapi sebagai generasi yang membaca sejarah yang ditorehkan, saya merasa berutang untuk menuliskan ini. Agar kelak, ketika saya juga menjadi senior bagi generasi setelah saya, saya bisa bercerita bahwa di Sumatera Utara pernah lahir seorang politisi yang tidak hanya cerdas secara strategi, tapi juga kaya secara hati.

Yasir Ridho Lubis, maestro yang karyanya tidak bisa dipajang di museum, tapi hidup di setiap orang yang pernah ia rangkul.

Saya tidak mengalami langsung. Saya hanya membaca dari cerita para senior.

Dan dari bacaan itu, saya belajar bahwa politik yang baik adalah politik yang melahirkan kebaikan, bukan sekadar kekuasaan.

Terima kasih, para senior, yang telah mewariskan cerita ini. Terima kasih, Pak Yasir Ridho Lubis, untuk jejak yang layak kami baca dan teladani.

Ikwal Pasaribu
Menulis dari ruang baca, merangkai dari cerita para pendahulu
Medan, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *